Global Warming adalah Agama Baru
Selamat hari Beltane!! Selamat 1 Mei!! Heleh heleh .. penting gak sih?
Kenapa gw nulis selamat hari Beltane? Buat orang2 di sono noh; Irlandia, Skotland dan sekitar-nya hari ini dirayakan sebagai awal musim panas, dimana orang2 mulai bercocok tanam. Kalau istilah & tradisi itu dimodern-kan, sekarang jadi-nya dikenal sebagai Hari Bumi. Secara Internasional, hari Bumi dirayakan pada tanggal 22 April.
Mungkin dua kejadian yang gak berkaitan, tapi pesan-nya sama: Mari kita mengingat bahwa kita hidup di dan dari Bumi.
Kebeneran tadi siang gw nonton film “An Inconvenient Truth”, (film-nya Al Gore yang terkenal itu lhoo).
Film ini mengangkat tema soal “Global Warming”. Inti-nya adalah, Bumi mengalami pemanasan global, akibat perbuatan manusia itu sendiri. Benar atau tidak? Secara statistik, penyumbang emisi Carbon terbesar adalah Amerika, jadi “blame it on the statesss .. ” .. (??)
Tapi gak boleh gitu, biar gimana, Indonesia tetap aja menyumbang kerusakan alam, dari kebakaran hutan, pembalakan lahan, erosi penambangan, eksploitasi alam yang berlebihan, pembangunan tidak terencana .. bla bla bla. Jadi ini adalah masalah kita semua, umat manusia.
Apa benar demikian? Apa emang manusia yang merusak dirinya sendiri? Semua ilmuwan di seluruh muka Bumi pasti setuju tentang hal itu. Tapi apa alam tidak menyumbang terhadap kerusakan? Kerusakan itu kan istilah manusia, alam selalu berubah, cuman manusia-nya saja yang terlalu egois untuk tidak menerima perubahan alam ini.
Balik lagi ke “Global Warming”, apa benar seperti yang dituturkan oleh Al Gore? Berapa sih proporsi sumbangan kerusakan oleh manusia? Apa itu cuman jargon & propaganda politik Al Gore? Tapi sulit juga, Al Gore didukung oleh ilmuwan-ilmuwan terkemuka.
Disisi lain, istilah Global Warming itu sepertinya selalu terngiang2 di telinga kita, (yang sering mendengarkan), cepat atau lambat, setiap fenomena bencana akan dikait2kan dengan istilah “akibat Global Warming” .. Jangan buang sampah sembarangan, daur ulang, hemat energi .. semua akan terkait dan dikaitkan dengan global warming.
Cepat atau lambat, jargon Global Warming akan nempel di telinga anak kecil, sampai nenek-nenek akan terbiasa mendengarkan jargon-jargon: hemat energi hemat biaya, matikan lampu jam 17-22 .. salah gitu? Gak juga seh .. semua-nya baik. Tapi tidak bisa dipungkiri, akan berkembang menjadi suatu wacana:
“Apakah anda percaya global warming” .. dan bukan tidak mungkin (dan sudah terjadi), ada pemisahan, mereka yang “percaya” global warming sudah terjadi, ada kelompok yang skeptis, tidak percaya bahkan sinis. Jadi ini fenomena apa?
Global Warming menjadi Agama!!
Kalau pinjam istilah Joseph Goebels: Kebohongan kecil akan dipercayai kalau terus menerus diulang-ulang.
Jadi, apakah global warming bohong??? Hanya Tuhan yang tahu, bahkan saintis yang mempelajari itu hanya mengatakan sesuatu yang mereka pelajari, terlepas ada kontroversi (yang selalu terjadi), dan dialektika-nya akan terus berjalan. Gw tidak akan peduli tentang kontroversi itu, sepanjang berjalan pada rel sains, that is fine with me.
Yang pasti adalah, global warming telah menjadi bahasa ‘Teologis’, sedemikian sehingga menyadarkan manusia tentang posisi-nya di dalam semesta ini, bahwa manusia itu terlalu rentan untuk bisa hidup di dalam semesta yang selalu berubah, tetapi kenapa manusia selalu arogan untuk mengakuinya? Terlalu arogan untuk tidak memelihara & menjaganya?
Alangkah lebih baik jika Penguin musuhnya Batman ada di dunia nyata, ketika dia kampanye untuk menjadi walikota Gotham, dia cukup berkata tentang global warming:
“Stop global warming, start global cooling!!!”
Selamat, percaya atau tidak Global Warming adalah agama yang baru!!
May 1st, 2007 at 10:30 pm
Daleem… Ironis juga ya publikasi mengenai global warming buanyaak tapi penulis yang meyakini global warming 0%. Wakwaw…
Wah, mestinya kemarin itu nonbarnya ngundang pakar lingkungan kali ya. Juga pakar atmosfer planet, paleontologi, geologi… loh loh??? Intine ben iso melihat dr berbagai point of view gitu lho.
Peningkatan jumlah penduduk kan meningkat eksponensial. Dan ujung2nya kan peningkatan emisi CO2. Nah, nah, lha kan nggak mungkin tho jumlah penduduk dikurangi. Nek ngayal sih yo kan wes ditemukan planet2 di luar Tata Surya. Piye nek sebagian transmigrasi ke sana? Atau, kalau mengikuti evolusi Darwin, yang bisa beradaptasi (dengan kondisi Bumi yang semakin panas ceunah) yang akan survive?