Archive for August, 2007

Keperawanan 3.500 Siswi Diperiksa Bupati Indramayu

Thursday, August 16th, 2007

Rabu 15 Agustus 2007, Jam: 9:51:00
INDRAMAYU (Pos Kota) - Beredarnya video mesum yang diperankan sepasang pelajar SMA di Indramayu, membuat gerah Bupati Indramayu dan pejabat muspida lainnya. Bupati H Irianto MS Syarifudin lalu bikin gebrakan akan memeriksa keperawanan sekitar 3.500 siswi SMP dan SMA atau sederajat di seluruh Indramayu.

"Pemeriksaan bertujuan memberitahukan orangtua siswa soal status keperawanan anak gadisnya," ujar Bupati Indramayu H Irianto MS Syarifudin di sela-sela pembakaran 2.600 buku sejarah di Kantor Kejari Indramayu, Selasa (14/8).

Jika hasil pemeriksaan medis diketahui terdapat siswi SMP/Mts dan SMA/SMK/MA tidak perawan lagi atau kegadisannya sudah hilang, maka orangtuanya akan dipanggil sekolah.

"Orangtuanya akan diingatkan untuk lebih waspada dalam mendidik putrinya sehingga jangan hanya bisa menyalahkan sekolah atau gurunya saja," kata Bupati Irianto MS Syarifudin.

Sedangkan teknis pemeriksaan akan dirapatkan dengan sekretaris daerah, bagian hukum, dinas kesehatan, pendidikan dan isntasi terkait. "Yang jelas tidak mungkin dilakukan di Puskesmas karena minimnya peralatan," papar bupati.

DITENTANG ORANGTUA MURID
Rencana Bupati Indramayu ini terbilang langka dan bikin kaget orangtua siswi. Bagaimana tidak, jumlah siswi yang bakal diperiksa keperawannya itu tak tanggung-tangung mencapai 3.500 siswi. Mereka itu adalah siswi kelas I, II, dan III SMA/SMK/MA dan siswi kelas III SMP/Mts. Sejumlah orangtua siswi kaget dan banyak menentang rencana ini.

Tidak sedikit walimurid yang menentang rencana ini dengan alasan keperawanan adalah masalah pribadi yang sensitif. Seperti dilontarkan Likin,56, seorang walimurid di Desa Heurgeulis yang mengatakan, rencana pemeriksaan keperawanan itu merupakan langkah mundur dan tidak tepat, sebab masalah keperawanan tidak ada hubungannya dengan pendidikan.

Jika wacana itu direalisasikan, lanjutnya bakal mengundang perdebatan panjang bukan hanya oleh kaum hawa di Indramayu tapi juga secara nasional.

"Pemeriksaan keperawanan siswi bisa dianggap merendahkan gender wanita dan akan menjadi bahan olok-olokan," kata Likin.

Sedangkan Ganda,54 warga Kecamatan Cikedung mengatakan, tak yakin Pemkab Indramayu bakal merealisasikan rencana tersebut. "Resikonya sangat tidak kecil, tapi kalau mau menanggungnya, yaa… silakan," ujarnya.

Sementara walimurid lainnya Sumantri,49, menjelaskan rencana ini akan membuat siswa yang ketahuan tidak perawan akan menanggung beban yang teramat berat.

"Siswi yang dinyatakan tidak perawan bakal menanggung beban mental yang maha berat baik dari teman sekolah, saudara, orangtua, tetangga dan lingkungannya," jelasnya.

Menanggapi penolakan wali murid ini, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Indramayu H. Suhaeli, M.Si, mengatakan, adalah hak walimurid untuk menolaknya. "Penolakan itu adalah hak pribadi mereka, kami tidak dapat memaksakannya dan akan saya sampaikan ke Bupati Indramayu," ujarnya.

BAKAL SIA-SIA
Rencana Pemkab Indramayu, menurut Koensatwanto Impasihardjo, Sekretaris Utama Menteri Pemberdayaan Perempuan adalah tindakan sia-sia, diskriminatif, dan tidak tidak memiliki dasar hukum yang jelas.

"Kalau terbukti siswi tersebut tidak lagi perawan, lantas apa yang akan dilakukan oleh Pemda? Melarangnya sekolah, tentu itu melanggar hak asasi," tutur Koen.

Selain itu, lanjut Koen, kalau benar mau diberlakukan, siswa yang di tes keperjakaannya. Tetapi dia mengingatkan sebaiknya rencana itu dibatalkan, sebab bakal menimbulkan protes dan mengganggu stabilitas pendidikan. "Munculnya video porno jangan dijadikan alasan utama, tapi dibutuhkan solusi agar siswi tidak melakukan seks bebas dengan pendidikan moral dan agama," paparnya.

Penolakan serupa dikemukakan Wakil Ketua PP Muslimat NU Gefarina Djohan yang secara tegas menolak rencana tersebut. "Perawan atau tidak adalah sesuatu yang sangat privacy. Membeberkan rahasia orang adalah aib. Dan itu tidak boleh dalam hukum agama," papar Gefarina.

Selain membeberkan aib orang, tes keperawanan juga tindakan yang tidak adil. Sebab seks tidak hanya melibatkan perempuan, tetapi juga laki-laki. "Lantas bagaimana dengan laki-laki, apa juga ada tes kejantanan," tandas Gefarina.

Tidak Sanggup Mengurus dan Membiayai, Anak Durhaka Buang Ibu Kandungnya di Stabat

Saturday, August 4th, 2007

Sungguh malang nasib nenek tua renta Sumiati (90) warga Simpang 4 Pinang Baris Kecamatan Sunggal ini. Ia dibuang anak kandungnya di bawah pohon kuini dekat Mesjid Raya Stabat Kabupaten Langkat sejak Sabtu (28/7).
Nenek Sumiati yang ditemui wartawan di Mesjid Raya Stabat Langkat
menuturkan, sebelum dirinya “terdampar” di kota Stabat, ia menetap di
rumah salah seorang anaknya di Sunggal. Dihimpit kehidupan ekonomi
keluarga yang serba kekurangan, anak itu tega membuang ibu yang
melahirkanya jauh dari keluarga, anak dan cucu-cucunya.
“Aku dibawa naik mobil jalan-jalan tanpa tahu tujuannya. Di dalam
perjalanan anak saya sempat berpesan aku akan dibuang karena tidak
sanggup lagi mengurusinya. Dengan pasrah sebelum dibuang aku berpesan
pada anak agar menitipku di salah satu masjid,” ujar Sumiati sambil
menangis.
“Kalau aku diusir dari rumah, tolong antarkan aku dekat mesjid saja,”
ujar Sumiati berulang kali sambil mengusap air mata yang terus mengalir
sambil tertunduk sedih menyesalkan perbuatan anaknya yang
menelantarkanya.
Memenuhi permintaan ibunya tersebut, anaknya bersama seorang sopir
mobil yang dicarternya itu, kemudian menurunkan ibunya di samping
Mesjid Raya Stabat persisnya di bawah pohon kuini di samping Masjid
tersebut. Aku ditinggal sendirian di atas selembar tikar di bawah pohon
itu,” kata nenek tersebut sambil menunjuk ke arah pohon yang dimaksud.
Menjelang sore, sejumlah jamaah masjid yang mengetahui keberadaan sang
nenek dengan kondisi yang mengenaskan itu, membopongnya ke rumah kosong
yang selama ini dijadikan gudang. Meskipun diperlakukan demikian,
Sumiati bermohon pada Allah agar membukakan pintu hati kedua anaknya
untuk segera bertobat sebelum menerima azab dariNya.
“Aku tetap berdoa semoga kedua anak-anakku tetap menjengukku meskipun
mereka telah membuangku jauh-jauh. Walau bagaimanapun mereka itu tetap
darah dagingku,” kenang sang nenek.
Bupati Langkat H Syamsul Arifin SE sesaat mendengar peristiwa yang
memilukan itu langsung memerintahkan Kepala Dinas Kesehatan Langkat dr
H Indra Salahuddin M Kes MM, Rabu (1/8) untuk membawa ibu malang
tersebut ke RSU Tanjung Pura agar dirawat sebaik-baiknya.
”Kita merasa sedih karena  di dunia ini masih ada anak yang tega menelantarkan ibu kandungnya sendiri,” ucap bupati.
Saat mengevakuasi nenek itu, dr Indra sempat menuturkan, akan merawat
ibu malang itu sampai sembuh dan juga akan mencari keluarganya kembali.
Kalaupun keluarganya tidak mengakui lagi ibu ini, ia akan dikirim ke
Panti Jompo.
Sebelum dibawa ke rumah sakit, Sumiati sempat melambaikan tangan dan
berpesan agar menitipkan salam dan rasa terima kasih kepada semua orang
yang telah memperhatikanya dan khususnya kepada Bupati Langkat H
Syamsul Arifin SE yang telah rela membantu dan memperhatikan dirinya.
Dia berharap semoga Allah dapat membalas semua budi kebaikan yang telah
diberikannya. (M27/t)

Diangkat dari Berita di Harian Sinar Indonesia Baru Online, edisi 1 Agustus 2007.