Menuduh dan Ngeles

June 22nd, 2007 by nggieng

Sekedar keinget kl di Indonesia itu seringkali terjadi, kalau ada orang dituduh praktek perdukunan, pasti diserbu, terus dibunuh dengan brutal .. *ugh* ..

Tapi pembunuhan dukun itu juga bukan monopoli orang Indonesia. Dari jaman abad pertengahan juga sudah ada pembakaran para penyihir di Eropa. Jadi, memang sudah dari sananya, manusia lebih suka menuduh dan menghukum. Yah, lebih mudah melemparkan kesalahan untuk orang lain. Yeah, i am innocent, am i not?

Kenapa manusia tidak ‘talking some sense’? Mungkin, semua peradaban di Bumi ini mengajarkan kebaikan, dengan sistem pengadilan, menggunakan pertimbangan yang baik dan benar. Tapi, terlalu membosankan mungkin. Balik lagi, sudah jadi naluri manusia, untuk bergerak spontan. Pengadilan bahkan kemufakatan membosankan, bahkan bisa dimanipulasi. Jadi, gimana dengan korbannya?

Korban akan selalu jadi korban, hanya keajaiban langit saja yang bisa menuntaskan masalah. Sejarah selalu mencatat, bahwa banyak orang ‘tidak bersalah’ selalu menjadi korban, apapun alasannya. Dan orang-orang yang berkepentingan untuk bisa memilah benar atau salah pun hanya berputar-putar.

Jadi ingat, ketika Sir Bedevere sedang menyidangkan seorang tersangka penyihir, cara menyidangkan yang ‘hillarious’ ini yang membuat Raja Arthur terkesan dan merekrut-nya menjadi Ksatria Meja Bundar. Oh boy, legenda Arthurian adalah cerita lain, lagian ini cuman dari film "Monty Python & The Holy Grail", neverteless, refleksinya jg kebawa sampai sekarang, bahkan sampai yang kecil2, kasus korupsi Medan Jaya, ata mau kasus yang gede2, korupsi di negri Indonesia? Atau hanya sekedar membela diri, "hey i am innocent! Let’s put the guilt on anywhere else" .. noo .. yeah, hell .. that’s way too far, i just like the conundrum.

Dan, inilah skrip-nya:

Sir Bedevere: There are ways of telling whether she is a witch.
Peasant 1: Are there? Oh well, tell us.
Sir Bedevere: Tell me. What do you do with witches?
Peasant 1: Burn them.
Sir Bedevere: And what do you burn, apart from witches?
Peasant 1: More witches.
Peasant 2: Wood.
Sir Bedevere: Good. Now, why do witches burn?
Peasant 3: …because they’re made of… wood?
Sir Bedevere: Good. So how do you tell whether she is made of wood?
Peasant 1: Build a bridge out of her.
Sir Bedevere: But can you not also build bridges out of stone?
Peasant 1: Oh yeah.
Sir Bedevere: Does wood sink in water?
Peasant 1: No, no, it floats!… It floats! Throw her into the pond!
Sir Bedevere: No, no. What else floats in water?
Peasant 1: Bread.
Peasant 2: Apples.
Peasant 3: Very small rocks.
Peasant 1: Cider.
Peasant 2: Gravy.
Peasant 3: Cherries.
Peasant 1: Mud.
Peasant 2:
Churches.
Peasant 3: Lead! Lead!
King Arthur:
A Duck.
Sir Bedevere: …Exactly. So, logically…
Peasant 1: If she weighed the same as a duck… she’s made of wood.
Sir Bedevere: And therefore…
Peasant 2: …A witch!

Nonton Premier Spidey 3

May 4th, 2007 by nggieng

Akhirnya!! Nonton premier-nya Spidey 3. Walaupun gak niat2 banget, spidey kan jagoan-nya Marvel. Tapi ya biarin dech, poko’e nonton film action, lumayan, gak mikir, tinggal duduk diam dan nonton.

First impression?? Rameeeee .. kalo pake istilah-nya Cardassian, gebuk dulu, gebukin terus dan gak usah dipikirin. Bweheee .. Marvel gitu lho, yang selalu terkenal dengan dunia-nya yang Marvelous.

Oke - oke .. sekarang ga mau mbahas Spidey si tokoh film, tapi sebagai tokoh komik. Satu hal yang gw suka dari komik US adalah, sepanjang gw baca itu selalu ada pakem-nya, ada canon (pake istilah komik). Dan film Spidey yang sepanjang gw tonton masih dalam canon besar-nya Marvel. So? Masalahe, sekarang gw mau melebar ke dunia per-komik-an.

Di suatu semesta yang hingar-bingar dengan peredaran komik, terdapatlah paling tidak dua kubu yang saling bersaing. DC & Marvel. Marvel terkenal dengan tokoh2 seperti Spidey, Hulk, Fantastic Four, Capt. America, X-Men, Ghost-Rider dkk; sedangkan dari kubu DC itu terkenal triumvirate: Bats (batman), Supes (superman) & Wonder-Woman (& ofcors si Power Girl dunkk ..) dkk.

Dua kubu ini selalu bersaing dalam merebut hati pembaca komik (was then including me). Itu bertahun2 yang lalu. Setelah bertahun2 berlalu dan gw gak baca lagi, tapi gw masih bisa ngikutin cerita & perkembangannya, tx for the canonization of their universe. Justru yang menarik adalah setelah sekian lama gak baca, tapi sambil ngikutin pelm-nya, baru dech sekarang ngeliat dua dunia yang saling berbeda itu , literally berbeda. Ya iya lah, di satu dunia ada spidey (Marv & Miss. Marvel), di dunia yang lain ada batman (DC), pasti beda. Tapi ini nih yang menarik, imho, gw mau bercerita tentang my past-time fave supes-heroes.

Coba perhatiin, kalo bats lagi jadi orang biasa (gw gak mau mbandingin jagoan marvel vs DC pake supes, soale pastinya supes itu emang bener2 super duper blooper, bats aja yg orang biasa). Bats kalo lagi biasa2 aja, jadi si Bruce Wayne, pengusaha sukses terpandang yang flamboyan. Tapi kalo jadi bats?? Kek yang bukan manusia dech, asal gedubrag-gedubrug, menolong yang lemah, memperjuangkan kebaikan. Oh jadi bats bukan manusia ya?? Kagak ada matinya tuh orang. Jadi bats tidak sama dengan Bruce Wayne.

Sekarang kalo nonton spides3 .. ternyata pahlawan bertopeng itu juga orang biasa yang bisa cengeng, ganjen, dan ternyata juga jelalatan. Atuh, kasian MJ la’an. Bottom-line, dibalik topeng super-hero-nya, spides dan Peter Parker itu adalah orang yang sama, yang butuh diperhatiin, ‘doyan berpetualang’, ‘gatel’, dan ternyata juga manusia biasa yang lemah, takut, sedih, frustasi.

Ternyata, kendati sama2 super-hero, mereka datang dari semesta yang berbeda dengan ‘perilaku ke-hero-an’ yang berbeda. Padahal juga paling2 sama makan nasi. Itu baru soal ‘perilaku ke-hero-an’.

Soal semesta, balik lagi, spidey cukup bergelayutan di Manhattan, perasaan gw gak pernah denger Spidey terbang sampai ke bulan. Bats?? bats itu udah keluyuran sampai bulan, wong markas JLA itu mengorbit somewhere around the space. Yang satu menjaga kota, yang satu menjaga bumi. Bumi??

Semesta Marvel itu sebetulnya juga kompleks, tapi gw gak terlalu hafal; karena gw gak mendalami, tapi sepanjang yang gw baca, Marvel-verse itu lebih banyak bercerita tentang (awas jadi bikin muntah): moral & etik! — howeeekkk –

Tapi emang bener gitu koq, coba aja ngikutin canon terakhir Marvel: Civil War, itu perang bukan perang yang gimana, perang diantara super hero sendiri, cuman masalah: perlu gak sih super-hero membuka kedok-nya? Toh super-hero itu bagian dari masyarakat? Atau seperti alter-ego Peter Parker di Spidey3, hey, bahkan seorang Peter Parker pun masih doyan cewe blonde *mwahahahaahahahaha*

DC? DC sekarang lagi panas2nya post crisis. Crisis apakah itu? Crisis di alam semesta ini!!! Kebayang gak kalau pusat alam semesta harus digeser2, hanya gara2 seseorang merindukan orang tua dan kampung halamannya??? Motif-nya sih sama, kegundahan manusia, tapi dalam skala yang kosmologis??

Jadi, kalo baca komik-nya Marvel itu, sama aja lagi baca cerita dorama, tapi kl baca DC, itu sama aja lagi ngikutin cerita mahabarata.

Tapi, setelah pulang dari bioskop gw jadi mikir; tontonan kek spidey gini sih kalo disini cuman dagangan franchise ajah, sekedar enak dikunyah, terus lupa. Ya gitu itu hukum rimba berlaku, pada akhirnya rimba raya menentukan nasib sesuatu/seseorang. Spiderman yang manusiawi, bats yang meta-human, harus tunduk pada hukum pasar, dimana yang menentukan nasib mereka adalah pembeli. Semakin mereka mengemas dirinya supaya laik dijual, semakin lama mereka bertahan, karena semakin laris jualannya.

Ah ternyata super-hero-pun hanyalah komoditas belaka, gak heran harus berkali-kali harus melihat Power Girl di ret-con (she is the best thou!!), bahkan Steve Rogers (Caps. America) harus dipenjara (sampai mata berkaca-kaca nih)? Apakah itu berarti memenjarakan semangat patriotik bangsa amerika? mmm .. gak juga tuh, hukum dagang berlaku universal.

Global Warming adalah Agama Baru

May 1st, 2007 by nggieng

Selamat hari Beltane!! Selamat 1 Mei!! Heleh heleh .. penting gak sih?

Kenapa gw nulis selamat hari Beltane? Buat orang2 di sono noh; Irlandia, Skotland dan sekitar-nya hari ini dirayakan sebagai awal musim panas, dimana orang2 mulai bercocok tanam. Kalau istilah & tradisi itu dimodern-kan, sekarang jadi-nya dikenal sebagai Hari Bumi. Secara Internasional, hari Bumi dirayakan pada tanggal 22 April.

Mungkin dua kejadian yang gak berkaitan, tapi pesan-nya sama: Mari kita mengingat bahwa kita hidup di dan dari Bumi.

Kebeneran tadi siang gw nonton film “An Inconvenient Truth”, (film-nya Al Gore yang terkenal itu lhoo).

Film ini mengangkat tema soal “Global Warming”. Inti-nya adalah, Bumi mengalami pemanasan global, akibat perbuatan manusia itu sendiri. Benar atau tidak? Secara statistik, penyumbang emisi Carbon terbesar adalah Amerika, jadi “blame it on the statesss .. ” .. (??)

Tapi gak boleh gitu, biar gimana, Indonesia tetap aja menyumbang kerusakan alam, dari kebakaran hutan, pembalakan lahan, erosi penambangan, eksploitasi alam yang berlebihan, pembangunan tidak terencana .. bla bla bla. Jadi ini adalah masalah kita semua, umat manusia.

Apa benar demikian? Apa emang manusia yang merusak dirinya sendiri? Semua ilmuwan di seluruh muka Bumi pasti setuju tentang hal itu. Tapi apa alam tidak menyumbang terhadap kerusakan? Kerusakan itu kan istilah manusia, alam selalu berubah, cuman manusia-nya saja yang terlalu egois untuk tidak menerima perubahan alam ini.

Balik lagi ke “Global Warming”, apa benar seperti yang dituturkan oleh Al Gore? Berapa sih proporsi sumbangan kerusakan oleh manusia? Apa itu cuman jargon & propaganda politik Al Gore? Tapi sulit juga, Al Gore didukung oleh ilmuwan-ilmuwan terkemuka.

Disisi lain, istilah Global Warming itu sepertinya selalu terngiang2 di telinga kita, (yang sering mendengarkan), cepat atau lambat, setiap fenomena bencana akan dikait2kan dengan istilah “akibat Global Warming” .. Jangan buang sampah sembarangan, daur ulang, hemat energi .. semua akan terkait dan dikaitkan dengan global warming.

Cepat atau lambat, jargon Global Warming akan nempel di telinga anak kecil, sampai nenek-nenek akan terbiasa mendengarkan jargon-jargon: hemat energi hemat biaya, matikan lampu jam 17-22 .. salah gitu? Gak juga seh .. semua-nya baik. Tapi tidak bisa dipungkiri, akan berkembang menjadi suatu wacana:

“Apakah anda percaya global warming” .. dan bukan tidak mungkin (dan sudah terjadi), ada pemisahan, mereka yang “percaya” global warming sudah terjadi, ada kelompok yang skeptis, tidak percaya bahkan sinis. Jadi ini fenomena apa?

Global Warming menjadi Agama!!

Kalau pinjam istilah Joseph Goebels: Kebohongan kecil akan dipercayai kalau terus menerus diulang-ulang.

Jadi, apakah global warming bohong??? Hanya Tuhan yang tahu, bahkan saintis yang mempelajari itu hanya mengatakan sesuatu yang mereka pelajari, terlepas ada kontroversi (yang selalu terjadi), dan dialektika-nya akan terus berjalan. Gw tidak akan peduli tentang kontroversi itu, sepanjang berjalan pada rel sains, that is fine with me.

Yang pasti adalah, global warming telah menjadi bahasa ‘Teologis’, sedemikian sehingga menyadarkan manusia tentang posisi-nya di dalam semesta ini, bahwa manusia itu terlalu rentan untuk bisa hidup di dalam semesta yang selalu berubah, tetapi kenapa manusia selalu arogan untuk mengakuinya? Terlalu arogan untuk tidak memelihara & menjaganya?

Alangkah lebih baik jika Penguin musuhnya Batman ada di dunia nyata, ketika dia kampanye untuk menjadi walikota Gotham, dia cukup berkata tentang global warming:

“Stop global warming, start global cooling!!!”

Selamat, percaya atau tidak Global Warming adalah agama yang baru!!

Genjer-Genjer & Stigma Politik - Nasib Kaum Marginal

April 20th, 2007 by nggieng

Malem-malem ujan gak berhenti2, mau ngapa2in males; iseng2 gw nyetel musik di iTunes, eh koq banyak lagu2 ajaib yah? Oh iyah, ada teman masukin lagu2 ajaib. So, what’s the story?

Ada yang unik, lagu dari Lilis Suryani, 1962, judule: Genjer-Genjer!!

Mwehehehe .. lagunya nglangut, kl kata orang jawa, well, gak tau gimana ini bisa jadi stigma politik, lagu genjer-genjer adalah lagunya PKI!! Apa iyah?

Heleh, jaman gitu sih gw lahir aja belom, jadi tau apa? Tapi kalo liat lirik-nya sih, emang me-refleksi-kan kesengsaraan, kesusahan, kesedihan. Jadi ya, boleh2 aja dech, kl dibilang itu lagu politik. Kan PKI keberpihakan pada buruh tani (kendaraan politik aja seh). Tapi apa emang gitu? Kalo dari filem ‘Pengkhianatan G30S - PKI’, iya seh, tapi apa emang beneran gitu?

Kalo kata orang "Sejarah selalu ditulis oleh pemenang .. ", pemenang-nya ya Orde Baru? Tapi Orde Baru juga punya stigma buruk tuh. Sejarah selalu berulang, dan yang pasti, selalu jadi korban ya, orang pinggiran, kaum marginal, orang susah.

Jadi, nasib-nya lagu ‘genjer-genjer’ dan nasib kaum marginal itu sebetulnya sama saja, kalo gak jadi kendaraan politik, jadi jargon, di eksploitasi dan pada akhirnya, berhasil atau gagal, terlupakan dengan irama yang sama-sama nglangut.

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak)

Senjata Yang Mematikan

April 16th, 2007 by nggieng

Dewan Keamanan PBB lagi pusing sama Iran, gara-gara Nuklir. Siapa sih yang gak takut sama nuklir? Belum jadi senjata, orang udah pada ngeri soal efek samping nuklir. Idih, padahal emang ada yang tahu senjata paling mematikan itu apa? Emang beneran senjata nuklir?

Hari geneeee .. coba bikin pop quiz, senjata apa yang paling mematikan di dunia ini? Pasti ada aja yang jawab, bom nuklir! Atau, yang laen dech, Bedil? AK47? M16? Katana? Gada berpaku? Pentungan? Pisau Komando? Yeah sebut aja semua senjata yang pernah diciptakan manusia, tapi semua jawaban itu, salah!!!

Mwahahahaha .. koq salah? Jawaban yang benernya apaan? Jawabannya adalah .. ASBAK!! yeah .. yeah .. logika dari mana??

Logika-nya gini ..
1. Asbak itu kan bentuknya kecil, gampang dibawa2, jadi kalo lagi bete sama orang, benda yang paling gampang digunakan untuk melukai orang yang bikin bete itu kan, asbak? Kan bisa yang laen? Sebut aja, piring, gelas, sendok, fine .. itu jg bisa, tapi biasa-nya kan asbak lebih masif, jadi paling gak kalo timpukannya mengenai kepala, bisa lebih efektif untuk paling tidak bikin benjut kepala, kalo gak meretakkan tulang kepala? Lagian semua bisa melakukannya koq, dari anak kecil sampe kaki-ninen bisa melemparkan asbak dengan mudahnya. Jadi semua bisa menjadi ‘pembunuh’ berdarah asbak? Asik kan?

2. Asbak terbuat dari berbagai bahan, bisa dari kaca, beling, keramik, bahkan logam. Jadi semakin variatif bahan pembuat-nya, semakin bervariasi way of killing? Bisa dari cuman asbak beling yang dipecahin di depan kaki, biar yang nginjek beling bedarah, terus pas lagi aduh-aduh gitu, digebukin sampe isdet; atau asbak logam yang dari bahan plat disambung2, bagian tajem-nya dibiarin berkarat, dipake buat nusuk, jusss, dying by infection; atau lebih bagus bahan titanium? ringan tapi masif, dilempar dengan cara yang tepat, bisa lebih hebat dari nunchaka, kena kepala? Heyappp ..

3. Asbak bisa dibawa2 sebagai suvenir, jadi pas naek pesawat, dipakai untuk membajak pesawat & pesawat-nya ditabrakin ke gedung tinggi? Can you imagine what an asbak can do??? Bottom line is, asbak itu adalah senjata yang tidak tampak sebagai senjata, tapi potensi-nya , moiii .. dahsyat pisannnn … don’t leave home without it ..

4. Nah kalo yang ini sih indirect but effective way of killing! Tau fungsi utama-nya asbak? Bwat nge-rokok! Jadi, siapin aja asbak dimana2, terutama si target, kasihin asbak, rokok & let the target nge-rokok too much .. oh en , jangan lupa untuk ngebubuhin racun di dalem rokok yg diisep si target, in anyway .. modar lah si target ..

Jadi? Berhati-hatilah dengan orang-orang yang biasa-nya cuman senyam-senyum, mungkin orang itu baik, tapi kalo menyimpan asbak dalam sakunya?

Cavalleria Rusticana - Overture to Crisis: Vulcan vs Cardassian, long live eternal enemies!

April 10th, 2007 by nggieng

Selamat Paskah!! (buat yang ngerayain paskah). Tapi gw lagi ga ngebahas soal Paskah, too darn religious, i should be burnt in hell .. hehehe ..

Ini bakal kagak nyambung, cuman setiap paskah gw pasti inget "Cavalleria Rusticana" .. hweleh hweleh .. Kalo ada nyang doyan nonton GodFather (Part III), ngliat di bagian terakhir ada opera, itu judul-nya Cavalleria Rusticana (nyang artinya: Ke-ksatria-an ala kampung) … sinopsis-nya? Gak jauh deh, tentang cinta & kehormatan disebuah kampung, dengan latar belakang pas lagi musim Paskah.

Makanya opera ini sering dimainkan pas musim Paskah-an.

So my point is? Cinta & Kehormatan?? nyiiiii … Rhoma Irama banggetttt!!!! … rrr … inti-nya sih, that is how it goes, nama-nya orang ada kenal, temen, benci, cinta, musuhan; antara sesama manusia, ada kehormatan, kesetiaan, kerendah-hatian, permusuhan, bla bla bla ..

Ya terus??

Gini cerita-nye .. pinjem istilah star-trek; a long long time ago … brrrpppp … maap!!! Itu dari pilm Setar Wors!!!

To boldly go where no-one has gone before … *politically correct*

Di dunia-nya star-trek tuh ada banyak bangsa bermusuhan, salah satu-nya Vulcan versus Cardassian …

Vulcan & Cardassian itu dua bangsa yg bisa dibilang bener2 saling bertolak belakang, nyang satu bijaksana & logis (vulcan), nyang satu biadab, brutal & haus darah (Cardassian).

Padahal sih di canon-nya Star-Trek dua bangsa itu gak pernah kontak langsung, kecuali lewat DS9; lagian kan krisis-nya di daerah Bajoran & Bajoran mulu yg jadi korban.

Kacian dech luu ..

Tapi biarin dech, itu kan dongengan; cuman ya gitu, tempo hari ada temen gw ngusulin, "bikin cerita napa, soal Cardassian vs Vulcan, asik kan tuh kl ngebahas darah bajoran bercucuran di lapangan gasibu bandung?" Huhh .. bikin another spin-off dr star-trek??? Kasian kan bajoran mulu yang jadi korban?

Tapi biar dech, let’s start it anyway … & the rest will follow .. biarin aja kagak nyambung .. this is why i sojourn here ..

ISYA 2007

March 12th, 2007 by nggieng

Tahun 2007 ini saya berkesempatan ikut “International School for Young Astronomer”, ke-29, yang pada tahun ini diadakan di Malaysia. Suatu kesempatan yang langka untuk bisa belajar ilmu astronomi dari pakar-pakar astronomi di seluruh dunia.

Ya yang namanya sekolah untuk astronom ‘muda’, arti-nya hanyalah sekedar ‘weekend warrior’, kegiatan yang hanya bersifat memperkenalkan apa sih ilmu astronomi; kendati demikian, sekedar kepikiran , yang awalnya hanya mengisi waktu luang di tengah2 kejenuhan, tapi kemudian teringat pada teman2 di indonesia, yang berminat, yang sekedar ingin tahu, yang sekedar membaca, yang ingin memasyarakatkan dan menghadirkan astronomi jauh ke masyarakat, tanpa adanya keterasingan, yang penuh kehangatan dan keakraban, jadi ya, kenapa tidak, mencoba menulis dan membagikannya kepada teman-teman di Indonesia. Sukur-sukur berguna.

Sekedar tambahan info, ISYA diikuti 38 peserta dari wilayah asia-pasifik, (di urut dari hurup): China (daratan), Filipina, India, Indonesia, Malaysia, Nepal, New Zealand, North Korea, Sri Lanka, Thailand, Taiwan, Vietnam.

Akhir kata, here’s the story, yang gak ngerti boleh tanya lewat japri.

dawn of august

August 1st, 2005 by nggieng

akhirnya .. setelah liburan yg poanjang di negri-nya para dewa .. sedikit oleh2 bwat temen2 yg emang suka ama kolexi awan, matahari , the stars ..  tapi ya yang tersedia gitu, mau jelek mau bagus, ya gitu lah adanya ..kl emang suka gambare, ambil ajah .. sukur2 kl masih inget mo ngasih credit bwat gw, minimal ngasihin emil dr yg ngambil gambar, biar g bisa ngucapin tenkiyu, karena gambare kepake .. wis ta lah,  poko’e enjoy .. natura abhorret vacuum